Postingan

Menampilkan postingan dengan label cinta

Pukul enam sore hari ini..

Aku tulis satu cerita tentang kamu, pada pukul enam sore hari ini.. Merangkai kata menjadi satu hal kesukaanku, setelah merangkai perhatian dan segala hal yang menarik untukmu Huruf menjadi bait yang rasanya sungguh manis, selalu terisi lagi dan menunggu untuk segera ditulis Tentu saja, apa yang lebih indah dari menumpahkan perasaan sembari mengusahakan segala yang aku bisa untuk membuatmu merasa bahagia? Rasanya, perasaanku tak pernah habis, seperti payung yang melindungimu saat tibanya gerimis Aku memang tak pandai untuk bercerita Huruf abjad terkadang tak selalu mulus keluar menjadi kata demi kata Tapi, aku akan meletakkan perasaanku di dalamnya dengan penuh Agar apa yang kau baca maknanya terasa utuh Aku mungkin akan maju paling depan dan tak ragu untuk tunjuk tangan Bila ada orang yang bertanya di dalam sebuah kelas "Siapa yang tidak takut kehilangan?" Aku, aku akan berdiri dan menceritakan semuanya dengan jelas Pasti kamupun bertanya, mengapa aku tidak takut? Jawabanku ...

Tentang Jarak

Kadang, jauh tak membuatku merasa rapuh Melainkan kuat, dan dilengkapi lalu utuh Atau tentang lelah hingga tiba peluh Sebenarnya aku mampu, tapi niatku tak teguh Hidup berdampingan tetapi berjarak Lalu, detik jam tak terasa mendesak Mengalir dan berjalan walau tak tampak Yang terlihat hanya aku, menderai sajak Dekat, hanya langit yang kita bangun sendiri Kita berdiri, menapaki tanah tanpa alas kaki Terkadang terengah, ingin segera berlari Menyerah, mundur, bukan sebuah solusi Aku ingin kita begitu rekat, dekat saja Tak perlu untuk selalu hadir dan ada Tak melulu harus kita tertawakan dunia Hanya aku dan kamu, seadanya, versi kita

Tidak Ada

Hujan sore ini deras Langit seolah gelap, tak berani bertatap Senja seolah malu, tak mau membiru Begitu kelabu, begitu abu-abu Tiga jam yang lalu, aku mengaku Bahagianya aku mengenalmu Si pemberi peduli yang selalu pergi Si pendukung yang jiwanya tak mau terkungkung Aku mengakui bahwa ucapku penuh terima kasih Atas datangnya dirimu membawa pelukan walau maya Atas hadirnya dirimu penuh dukungan walau tak nyata Atas adanya dirimu yang senang memberi perhatian Tapi, aku pun mengakui penuh sadar Apa yang aku rasakan tak sepenuhnya membuatku sabar Aku harus terburu-buru beranjak Untuk menyudahi rasa- rasa yang mulai berteriak Memintamu tetap disini adalah sepersekian ketidakmungkinan Kau tidak nyata, kau hanya ilusi layar kaca Pada dunia maya, pada keadaan yang tidak ada Kau semu, seperti ketidakpastian akan bertemu.

Kau Kira

Kau kira Disaat kau bosan lalu meninggalkan Kau pantas disebut jagoan? Kau kira Disaat kau menganggap tak ada yang salah Kau bisa lepas dari masalah? Tak sadarkah kau Disaat kau melupakannya Ada seseorang yang tiap sujudnya tak lupa berdoa Agar bahagia tak jauh darimu Agar kedamaian ada di hatimu Akan ada doa manis Dari seseorang yang pernah kau buat menangis Dan akan ada harapan Untukmu di masa depan Semoga takkan ada perempuan Yang kembali kau tinggalkan Ketika di pelupuk matanya terdapat kasih sayang Yang tanpa kau sadari, tak tergantikan

Air Mata Kesekian

Apa yang Tuhan berikan Agaknya memenuhi kekosongan Tiada kehadiran Tanpa keresahan Hadirmu yang ku rasa menjauh perlahan Bukan karena aku bosan Melainkan adalah sebuah ujian Atas kesedihan Dan air mata yang aku jatuhkan Tanpa berpamitan

Selamat Pergi

Kau tahu? Semesta begitu memberiku kesempatan Untuk membelakangi dirimu secara perlahan Mengapa? Karena kau datang bukan untuk membalut luka Tetapi kau menimpanya Dengan air mata Yang jatuh dari pelupuk mataku, di depanmu Tepat, sebagai pengantar kepergianmu..

Suatu Hari di Bulan Juli

Kala itu kau datang Begitu menarik dan menyenangkan Luka yang terbuka siap kau balut Sedih yang basah kau usap lembut Begitu ceria setiap harinya Ku tawarkan sejuta sumber tawa Kau berikan setangkup bahagia Begitu penuh hari kita dengan tiada luka Sampai ketika itu aku tersadar Bahwa telah tiba masa aku harus bersabar Tawa yang ku beri kau ambil habis Hanya tersisa aku, yang tak henti menangis Waktu berjalan dan berlari Ingatan akanmu sudah tak ada lagi Mengapa demikian? Karena aku yakin pada suatu keputusan Tuhan Balasan dariNya tak akan pernah salah sasaran

Kau, yang Datang Lagi..

Kau bilang Cinta seperti awan, begitu banyak menyimpan hujan Ku bilang Cinta seperti hujan, begitu banyak rupa kesedihan Waktu itu kau datang Menawarkan untuk membalut luka Menghadirkan tawa setiap harinya Memastikan bahwa aku menyambutmu, penuh bahagia Tentu saja Ku sambut hadirmu dengan penuh kerinduan Berpuluh bulan kau menghilang Akhirnya kau datang, membawa kenangan Aku tak tahu Harus bagaimanakah membalas hadirmu Apakah aku harus bersuka ria Ataukah aku harus kembali menabung air mata Karena waktu itu aku pernah berjanji Untuk merajut masa depan tanpa ada kamu lagi..

Pada Hujan yang Membuat Pipiku Basah

ku rasa, awalnya tiada dan menjadi ada awalnya tiada pernah ku ragu telah membiarkanmu singgah dengan waktu yang tak sebentar, membuatku sempat lupa arah awalnya tak pernah ku pikir, kau ternyata hanya sekadar mampir tak lama menetap, tak bertahan untuk dianggap hadir suatu hari aku merasa sesuatu hadirmu saat itu ternyata tak sepenuh ragamu adamu kala itu tak senyata harapku ku pikir kau begitu bermakna dan membawa banyak kisah perkiraanku tak benar, nyatanya aku lebur dalam hujan yang membuat pipiku basah akhirnya aku mengerti sepenuhnya bahwa kesempatan yang ku beri padamu tak kau ambil semuanya kau ambil dua diantara tiga dua kau bawa hingga aku terasa tak pernah berduka satu kau genggam sampai aku merasa begitu hampa hampa pada air mata yang jatuh setiap detiknya..

Pukul 3 Sore Ini

menggenggam tiap sudut jemarimu terasa sulit kudapatkan kembali kau tahu? hidup terasa begitu berwarna ketika kau sunggingkan ramah senyummu sukar tak lagi menggelegar duka tak lagi menghapus tawa ketika ada kau berdampingan denganku, kita memaruhkan cerita, tanpa jeda terkadang, segar angin di kala itu melaksanakan tugasnya dengan baik membuatku sadar, bahwa kita tak berjamin ada untuk selamanya ketika suatu masa di depan memanggilmu dan kau datang padanya ketika suatu masa aku hanya menatap kau melangkah, nyaris berlari aku menyadari, apa yang ada saat ini begitu bias, begitu tak jelas arahnya di bawah rindang dan segarnya pukul tiga sore ini aku telah bercerita ada peranmu yang hampir saja terjun sepenuhnya di dalam suatu perjalanan hidupku memang, tak selayaknya aku menarikmu agar kau dan aku jatuh dan terluka bersama karena ternyata kepergianmu membuatku mengerti satu hal untuk merasakan sebenar-benarnya cinta, aku harus menerima satu paket dengan luka..

Satu Pemikat dari Filosofi Kopi

Gambar
“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?” ― Dee, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade. dikutip dari : http://www.goodreads.com/work/quotes/2095743-filosofi-kopi-kumpulan-cerita-dan-prosa-satu-dekade 

Sebuah Sajak

“DI RESTORAN Kita berdua saja, duduk. Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput -- kau entah memesan apa. Aku memesan batu ditengah sungai terjal yang deras --

Hujan

Hari ini hujan turun lagi Melambungkan angan dan kenangan Membasahi serpihan dongeng yang telah terekam Mengusap kehangatan dan membekukan keadaan Kemarin anganku melukis wajahmu Desah nafasku tak henti mengucap aksaramu Tengadahku selalu mengantar harap Sebelum hujan menindasku dengan kalap

Pada Semesta

Pada semesta yang gulita, aku sampaikan sebuah sajak Dari gerutu hingga asa yang berteriak Dari getir mulia hingga apa-apa yang mulai menggalak Pada semesta, aku rajut kembali rasa yang berantak Pada semesta yang meniup sejuk, aku mulai menari Menghantar fajar di subuh hari Mengecup duka yang semakin tak tahu diri Menyingkap hujan dan melukis pelangi

Tuhan...

Tuhan, rindu ini begitu menjerat, begitu erat. Aku mengerti kau tak pernah sekalipun terlelap, tapi aku tak pernah sekalipun mengerti apapun yang telah terencana dengan siap. Rindu. Begitu memberi candu. Aku mengerti bahwa rasaku sudah tak punya hak untuk merajainya lagi. Begitu beratnya merasakan, sekaligus memendam. Tuhan, begitu sulitnya menahan tanpa pernah mampu untuk mengungkapkan.

Hari ini Aku Merindui

Hari ini aku merindui sebuah kaki Sebuah langkah yang beranjak pasti Tanpa ragu membasuh waktu dan hari Tanpa takut jatuh dan bangun lagi

Ketidakpastian

Gelaran rasa ini sepertinya mulai terpendam Membuatku merasa berlutut padamu dan terdiam Saat setiap bayang-bayang angan ini mulai terasa dalam Rasa-rasanya gentakan ragam keraguan mulai padam Sebegini rumitkah yang dinamakan berbelitnya perasaan? Ketika kesemuan dan ketidakpastian dinomorsatukan Walaupun rasa mulai berontak menuntut kejelasan Seketika semuanya serasa lepas kendali tanpa pegangan

Ini (mungkin) tentang Aku.. di Benakmu

Sepertinya ketika sosokmu hadir, aku tak lagi butuh sebuah harga diri mengapa sebegini rendahnya seorang aku di benak seorang kamu betapa banyak rasa yang seketika jatuh menjauh saat waktu mendekatkan aku tak tahu seberapa tinggi logikamu, yang aku tahu, aku begitu rendah dan nyaris terinjak olehmu Tanpa sadar dari dalam ruang perasaanku yang terdalam, aku tak pernah beranjak darimu aku seperti punya candu yang permanen saat segalanya merekatkan kita katakan ini omong kosong, karena segalanya tak pernah terasa sarat makna buatmu ah.. bilang saja bahwa semua perasaan yang tertuang sedang bersandiwara

Hai, kamu..

Hai, kawan. Ini aku, pemuja tanpa alibi yang sarat. Aku diam-diam ingin hadir dalam lamunanmu, walaupun kau sepertinya tak pernah punya waktu untuk diam menyelami keadaan, apalagi diam memikirkan aku, benar kan? Aku ingin sekedar berbicara kecil denganmu. Aku begitu menyukaimu sampai-sampai aku tak sadar bahwa kamu tak pernah peduli, atau memang kau peduli di alam bawah sadarku?

Ini

Aku tak mengerti Mengapa datangnya ini tak aku duga dan pahami Aku juga tak tahu Mengapa ini membuatku bingung dan gila sendiri Apa ini tak sepenting hal-hal penting lainnya? Semua yang tiba-tiba datang dan hilang seketika Apapun yang awalnya terasa Namun akhirnya tak berharga Aku juga tak mengerti